PENERAPAN TEKNIK SHALLOW DEPTH OF FIELD UNTUK VIRTUAL STAGE PADA METEVERSE
Author : Ahmad Zaini  , Novita Astin, Aji Sapta Pramulen

Abstrak

Virtual stage adalah visual background dalam bentuk virtual objek 3D yang akan di tampilkan secara langsung. Teknologi metaverse saat ini menjadi sesuatu topik yang sering dibicarakan dalam perkembangan dunia digital. Sebuah simulasi dunia digital yang dibuat atas pencitraan tiga dimensi dunia nyata dan dunia virtual. Dengan menggunakan virtual stage akan mempermudah untuk mengganti latar belakang panggung, serta modifikasi panggung yang di inginkan. Sedangkan jika menggunakan real stage lebih susah dan memerlukan waktu set up yang lebih lama. Penggunaan teknologi virtual lebih mudah, dan menghemat waktu untuk set up panggung. Dan penerapan teknik shallow depth of field pada panggung, akan membuat tampilan lebih menarik pada sebuah virtual stage. Dengan adanya tampilan virtual stage yang monoton, sehingga menawarkan judul TA. Pembuatan virtual stage dengan penerapan veknik shallow depth of field yang menghasilkan virtual stage dengan variasi ketajaman pada sebuah latar belakang. Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan penerapan veknik shallow depth of field untuk virtual stage. Dengan menampilkan objek 3D dari virtual stage. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Multimedia Development Life Cycle (MDLC). MDLC terdiri dari enam tahap yaitu pengonsepan (concept), perancangan (design), pengumpulan materi (material collecting), pembuatan (assembly), pengujian (testing), dan pendistribusian (distribution). Hasil dari proyek akhir ini berupa tiga video virtual stage dengan tema, news room, sport room, dan holiday room.


KLASIFIKASI DENTAL CARIES INTERPROXIMAL BERDASARKAN CITRA RADIOGRAFI PERIAPIKAL

Author : Alfira Fibri Nurningtyas  , Riyanto Sigit, Tri Harsono

Abstrak

Karies menjadi salah satu permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia yaitu sebesar 88,8%. Penyebab terjadinya karies yaitu aktivitas bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya demineralisasi pada permukaan gigi. Dari beberapa jenis karies gigi, karies interproximal adalah tipe yang paling sulit dideteksi karena tingkat perkembangannya yang cepat dan sulit dalam mendeteksi keberadaan lesi yang terjadi di permukaan halus antara batas gigi. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibuat sistem yang dapat mengklasifikasikan karies jenis interproximal berdasarkan citra radiografi periapikal. Klasifikasi ini didasarkan pada klasifikasi menurut G. V. Black yaitu berdasarkan posisi terjadinya karies pada gigi. Citra radiografi periapikal digunakan sebagai input sistem yang nantinya akan dilakukan klasifikasi dengan menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN). Output dari sistem ini berupa klasifikasi kombinasi dari jenis gigi dan jenis karies interproximal yang terjadi pada bagian anterior dan posterior gigi. Kombinasi dari jenis gigi dan jenis karies interproximal tersebut terbagi menjadi enam klasifikasi yaitu Molar Kelas II, Premolar Kelas II, Caninus Kelas III, Insisiv Kelas III Caninus Kelas IV, dan Insisiv Kelas IV. Hasil penelitian menunjukkan performa keakurasian klasifikasi sebesar 85% terhadap 60 data pengujian.


SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BADAN PELAKSANA MENTORING UKKI PENS

Author : Seli Salfatia Adisuria  , Kholid Fathoni, Didik Setyo Purnomo

Abstrak

Informasi saat ini menjadi sesuatu yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Kebutuhan memberikan informasi secara cepat dan tepat menjadi suatu aspek yang sangat penting, termasuk dalam hal pengolahan informasi pada suatu kelembagaan. Badan Pelaksana Mentroing merupakan suatu lembaga yang mengurus pelaksanaan mentoring dimana membutuhkan perolehan informasi secara tepat dan tepat dalam pengolaan datanya. Sehingga dapat mempermudah dosen agama, pelaksana mentoring dan mente dalam memperoleh informasi mengenai memonitoring pelaksanaan mentoring. Dalam tugas akhir dibuat sebuah aplikasi berbasis web, dimana dengan website ini dapat mempermudah mentor, mentee maupun dosen agama dalam mendapatkan informasi terkait dengan mentoring seperti daftar kehadiran,kurikulum mentoring dan lainnya.


RANCANG BANGUN GIM SIMULASI EDUKATIF “FUEL RUN: 1L CHALLENGE” UNTUK PENGENALAN SISTEM EFISIENSI BAHAN BAKAR

Author : Muhammad Faiz Al Hakim  , Fony Revindasari, Zulhaydar Fairozal Akbar

Abstrak

Meningkatnya kebutuhan akan efisiensi energi di sektor transportasi mendorong perlunya media edukasi yang mampu memperkenalkan konsep efisiensi bahan bakar secara menarik dan mudah dipahami. Namun, pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi bahan bakar masih terbatas, sementara sebagian besar gim otomotif lebih berfokus pada hiburan dibandingkan edukasi. Penelitian ini mengembangkan gim simulasi edukatif Fuel Run: 1L Challenge sebagai media pembelajaran berbasis game-based learning dan serious game untuk memperkenalkan sistem efisiensi bahan bakar kendaraan. Gim ini mengintegrasikan mekanik idle, simulasi berbasis fisika sederhana, serta umpan balik interaktif untuk menggambarkan pengaruh empat faktor utama, yaitu mesin, bahan bakar, bodi kendaraan, dan teknologi penunjang terhadap efisiensi kendaraan. Pengembangan dilakukan menggunakan model ADDIE yang dipadukan dengan Game Development Life Cycle (GDLC), dengan target platform Android berorientasi potret. Keunikan penelitian ini terletak pada penyajian konsep efisiensi bahan bakar melalui simulasi interaktif yang ditujukan bagi pengguna nonteknis. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test yang dianalisis melalui uji Wilcoxon Signed-Rank Test dan perhitungan effect size. Hasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman responden setelah memainkan gim, sehingga Fuel Run: 1L Challenge berpotensi menjadi media edukasi alternatif untuk meningkatkan literasi energi dan pemahaman mengenai efisiensi bahan bakar kendaraan.


ANALISA OPTIMASI COVERAGE AREA JARINGAN FEMTOCELL BERBASIS SIMULASI MENGGUNAKAN METODE SIMULATED ANNEALING

Author : Sophia Mawartadiyana  , Ari Wijayanti, Okkie Puspitorini

Abstrak

Perkembangan teknologi digital dan internet yang sangat pesat memberikan kontribusi signifikan di bidang telekomunikasi khususnya jaringan seluler. Jumlah pelanggan yang besar, jumlah penyedia jaringan yang banyak, tarif yang murah dan handset yang murah adalah faktor-faktor yang mendorong terjadinya overload kapasitas jaringan seluler yang disediakan operator. Maka jika dulu mudah melakukan call di suatu lokasi outdoor, sekarang ini didapati sulitnya melakukan call, terlebih lagi di dalam ruangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka hadir teknologi femtocell. Sesuai standar 3GPP (3rd Generation Partnership Project), femtocell disebut juga dengan Home Node-B (HNB). Sampai dengan saat ini teknologi femtocell belum diimplementasikan secara resmi di Indonesia. Pada penelitian ini akan dibuat simulasi sistem yang dapat menggambarkan perfomansi jaringan femtocell sehingga dapat memprediksi coverage area jaringan femtocell. Kemudian dianalisa untuk tiap HNB yang memiliki coverage area yang overlap. Kondisi overlap terjadi ketika jaringan suatu femtocell tumpang tindih dengan femtocell lain. Selanjutnya dilakukan penataan ulang penempatan HNB menggunakan metode simulated annealing untuk mendapatkan coverage area dan jumlah HNB yang efisien. Hasil simulasi menunjukkan pada area lantai 1 gedung simulasi, nilai overlapping antar FAP 33,3964 % dapat diturunkan menjadi 18,8217 %. Pada area lantai 2 gedung simulasi, nilai overlapping antar FAP dari 32% dapat diturunkan menjadi 21,0382 %. Pada area lantai 3 gedung simulasi, nilai overlapping antar FAP dari 42,2198% dapat diturunkan menjadi 29,0917%.