Author : Dimas Ardiansyah Wijaya , Renny Rakhmawati, Suhariningsih
Abstrak
Penggunaan energi terbarkan merupakan jawaban yang tepat untuk menggantikan bahan bakar fosil. Hal ini bisa berdampak pada lingkungan dan semakin berkurang energi listrik yang terbuat dari bahan bakar fosil. sehingga harus mencari sumber energi alternatif dengan menggunakan sumber energi alternatif dari matahari yaitu solar cell, dimana dengan system ini dapat menghemat pemakaian sumber listrik dan tidak merusak lingkungan. Akan tetapi kinerja dari panel surya dipengaruhi beberapa faktor yaitu intensitas cahaya dan suhu, ketika intensitas cahaya berubah-ubah maka dapat mempengaruhi daya keluaran panel surya tidak stabil, ini adalah kelemahan dari panel surya. Untuk mengatasi hal tersebut maka dibuatlah system MPPT dengan menggunakan dc-dc converter, dar banyaknya dc-dc converter seperti Buck Converter, Boost Converter, Buck Boost Converter, CUK Converter, Sepic Converter, Zeta Converter dan pada proyek akhir ini yang digunakan adalah Buck Boost Converter. Agar keluaran daya pada panel surya dapat mencapai titik daya maksimal maka dapat diperlukan kontor duty cycle pada Buck Boost Converter. Pada kali ini kontrol yang digunakan yaitu menggunakan metode Greywolf Optimization, soalr panel yang digunakan sebesar 100Wp sebanyak 2 buah dengan beban lampu sebanyak 1 buah sebesar 12V/24W. Pada bagian-bagian lain proyek akhir ini menggunakan mikrokontroller STM32F407VG sebagai pengaturnya dari sensor tegangan dan sensor arus. Hasil dari proyek akhir dengan cara simulasi ini MPPT dengan metode Greywolf Optimization didapatkan hasil effisiensi sebesar rata-rata 95 persen dibandingkan dengan metode PnO didapatkan hasil effisiensi sebesar rata-rata 87 persen sehingga dengan metode Greywolf Optimization tersebut dapat digunakan sebagai solusi optimalisasi daya keluaran dari solar cell. kenaikan daya pada MPPT Greywolf Optimization sebesar 17.71 persen. Hasil dari proyek akhir ini dengan cara pengujian perangkat keras didapatkan kaianakn daya untuk metode Greywolf Optimization sebesar 24.24 persen
ANIMASI 2D PENGUATAN KARAKTER ANAK UNTUK PROYEK PENGUATAN PROFILE PELAJAR PANCASILA (P5) DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN ANAK USIAN DINI (PAUD)
Author : Ramada Salsabila , Mohammad Zikky, Deny Fardiansyah Putra
Abstrak
Proyek akhir ini bertujuan untuk mengembangkan animasi 2D interaktif yang memperkenalkan dan memperkuat perilaku Profil Pelajar Pancasila (P5) kepada anak usia dini. P5 merupakan inisiatif pendidikan karakter yang meliputi nilai-nilai religiositas, gotong royong, mandiri, kebinekaan global, dan kreativitas. Mengingat pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini, proyek ini menggunakan animasi 2D sebagai media pembelajaran yang menarik, efektif, dan sesuai dengan perkembangan anak. Animasi dirancang dengan pendekatan visual yang sederhana, warna-warna cerah, karakter ramah anak, serta alur cerita yang mengilustrasikan penerapan nilai- nilai P5 dalam kehidupan sehari-hari. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi literatur. Pengembangan animasi melalui tahap pra-produksi, produksi, dan pasca- produksi, dengan perangkat lunak yang mendukung pembuatan animasi 2D. Hasil pengujian di lingkungan PAUD menunjukkan bahwa media animasi 2D ini efektif dalam meningkatkan pemahaman anak terhadap nilai-nilai P5. Proyek ini diharapkan dapat menjadi alternatif media pembelajaran yang inovatif dalam mendukung penguatan karakter anak usia dini.
PERENCANAAN DAN ANALISA INFRASTRUKTUR SISTEM KOMUNIKASI UNTUK IMPLEMENTASI INTELLIGENT TRANSPORTATION SYSTEM (ITS) DI JALAN RAYA
Author : Rara Indah Permatasari , Okkie Puspitorini, Hani'ah Mahmudah
Abstrak
Perencanaan dan analisa infrastruktur sistem komunikasi untuk implementasi Intelligent Transportation System (ITS) dijalan raya berupa rancang bangun prototipe sistem komunikasi antar Infrastruktur ITS. Dalam implementasinya desain infrastruktur sistem komunikasi ini menggunakan infrastruktur client (sensor, mikrokontroler, sim 900) serta infrastruktur server (laptop dengan jaringan speedy). Jalan Raya cenderung memiliki lebar jalan yang sempit dengan volume lalu lintas yang padat. Simulasi dilakukan di Jalan Ahmad Yani Surabaya dalam dua macam mounting , vertikal dan horizontal. Dengan mode Counting didapatkan data kecepatan, jenis kendaraan, serta gap waktu antar kendaraan. Dari pengukuran yang dilakukan didapatkan hasil bahwa komunikasi antar infrastruktur berhasil menggunakan sensor digital falcon plus II melalui jaringan GPRS/GSM yang didukung dengan keberadaan tower BTS terdekat dititik pengukuran, hal ini terbukti dari besar level daya dari antenna BTS lebih besar dari sensitivitas sim 900 sehingga dapat mengcover komunikasi data yang dikirim melalui sim 900. Sisi server menggunakan jaringan speedy karena terdapat fitur ip public yang mendukung port forwarding yang berguna untuk komunikasi data. Dan hasil pengukuran dengan mode counting didukung dengan parameter SENS dan GAPL yang tepat. Untuk mounting vertikal nilai SENS 14-15, sedangkan untuk mounting horizontal nilai SENS 11-12, dengan GAPL 12.
MODULASI ADAPTIF PADA SISTEM TRANSMISI OFDM
Author : Sholihah Ayu Wulandari , Tri Budi Santoso
Abstrak
Pada Proyek Akhir ini telah dilakukan evaluasi kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dengan modulasi adaptif dan analisa pengaruhnya terhadap Bit Error Rate (BER) pada kanal Additive White Gaussian Noise (AWGN). Modulasi adaptif yang digunakan tergantung pada umpan balik yang diberikan sesuai dengan nilai Signal to Noise Ratio (SNR) yang diterima. Jenis modulasi yang digunakan adalah modulasi Binary phase-shift keying (BPSK), Quadrature phase-shift keying (QPSK) dan 16-Quadrature Amplitude Modulation (16-QAM). Jenis modulasi adaptif yang digunakan adalah Non uniform Modulation. Tiga jenis teknik modulasi tersebut digunakan untuk menyusun non-uniform modulation pada sistem OFDM. Proses transmisi dilakukan dengan mengirimkan 10 bit menggunakan 16-QAM, 10 bit menggunakan QPSK, dan 20 bit menggunakan BPSK. Setiap skema modulasi dirancang untuk nilai BER 10-3. Pada penggunaan modulasi adaptif ini memiliki data rate yang tinggi dan error rate yang rendah, sehingga lebih baik dari modulasi BPSK, QPSK, dan 16-QAM. Sistem adaptif mampu mengirimkan 240000 bit, sedangkan bila dikirim hanya dengan BPSK saja hanya mengirimkan 120000 bit, QPSK mampu mengirimkan 240000 bit dan 16-QAM mampu mengirimkan lebih banyak bit sejumlah 480000. Hasilnya memang menunjukkan bahwa 16-QAM merupakan jenis modulasi yang mampu mengirimkan bit paling banyak, tetapi perlu diperhitungkan pula besar error rate dari tiap modulasi. BPSK memiliki error rate yang paling baik dibandingkan modulasi lainnya. Pada sistem adaptif mampu mengirimkan banyak bit secara efisien karena memiliki error rate yang lebih rendah dibandingkan dengan modulasi lainnya.
ESTIMASI POSISI NODE SENSOR DENGAN MEMPERTIMBANGKAN KONEKTIVITAS ANTAR NODE PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL
Author : NINIS ARI FIANTI , Aries Pratiarso, Prima Kristalina
Abstrak
Jaringan Sensor Nirkabel (JSN) merupakan sebuah jaringan nirkabel yang terdiri dari sekumpulan sensor yang saling terkoneksi digunakan untuk memonitoring luasan area tertentu. Aplikasi dari penggunaan JSN telah banyak digunakan misalnya, monitoring sungai, monitoring kesehatan, dan monitoring habitat hewan. Pada aplikasinya node sensor disebarkan secara acak pada suatu area tertentu dimana tidak semua node dilengkapi GPS untuk mendeteksi posisi dari sensor node tersebut sehingga teknik lokalisasi merupakan hal yang penting untuk mengetahui posisi dari unknown nodes. Sebuah algoritma diperlukan untuk melakukan estimasi posisi unknown nodes. Pada penelitian ini algoritma yang digunakan untuk estimasi posisi unknown node menggunakan metode weighted centroid dengan mempertimbangkan konektivitas antar nodes. Konektivitas antar node ditunjukkan dengan adanya kuantisasi level, sebagai pembobotnya. Penerapan algoritma centroid dan weighted centroid dengan menggunakan data RSSI digunakan untuk mengetahui keakuratan data estimasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hubungan pengaruh communication range dengan n-bit sisipan yang digunakan untuk kuantisasi pembobotan adalah semakin besarnya communication range maka n-bit yang digunakan untuk pembagian level juga besar dan bila communication range kecil maka n-bit yang digunakan untuk pembagian level juga kecil. Estimasi posisi dengan menggunakan algoritma weighted centroid pada luas area 20x20meter dengan communication range 18 meter mampu memperbaiki kinerja dari sistem sampai 75,45% dibandingkan centroid dan dengan weighted centroid level 4 bit bisa memperbaiki sampai 94,42% lebih baik dari pada menggunakan algoritma centroid. Dari hasil rata-rata error yang dihasilkan menunjukkan dengan menggunakan algoritma weighted centroid dengan level lebih rendah daripada menggunakan algoritma centroid dan weighted centroid.
Kategori
D3 Teknik ElektronikaD3 Teknik Telekomunikasi
D3 Teknik Elektro Industri
D3 Teknik Informatika
D3 Teknologi Multimedia Broadcasting
D4 Teknik Elektronika
D4 Teknik Telekomunikasi
D4 Teknik Elektro Industri
D4 Teknik Informatika
D4 Teknik Mekatronika
D4 Teknik Komputer
D4 Teknik Teknologi Game
S2 Teknik Elektro
S2 Teknik Informatika dan Komputer