DIGITAL PROTECTION OVERCURRENT RELAY DENGAN FIBER OPTIC SEBAGAI MEDIA KOORDINASI ANTAR RELAY
Author : Mochamad Bagus Kurniawan  , Anang Tjahjono, Indhana Sudiharto

Abstrak

Digital Protection Over Current Relay (DPOCR) bekerja dengan membaca input berupa besaran arus lalu dibandingankan dengan nilai setting yang telah diatur, apabila nilai arus yang terbaca oleh relay melebihi nilai setting, maka relay akan mengirim perintah trip (lepas) kepada Pemutus Tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB) setelah tunda waktu yang diterapkan pada setting. Kurva karakteristik inverse pada OCR yang digunakan pada proyek akhir ini sesuai dengan standar IEC ada 3 jenis, yaitu : standard inverse (SI), very inverse (VI), extremely inverse (EI), 3 karakteristik tersebut dapat dipilih dan dapat diseting melalui modul DPOCR atau dari PC. Error waktu trip yang paling besar terjadi pada karakteristik standard inverse dengan nilai error sebesar 6.754 %. Pengiriman data melalui komunikasi USART dengan menggunakan Kabel Fiber Optic, pengiriman data berupa variable Arus, Tegangan dan Protokol komunikasi yang dikirim melalui Mikrokontroler dan protokol dari PC. Kemudian akan diproses pada Mikrokontroler dan ditampilkan pada LCD TFT Mikrokontroler juga pada personal computer, kecepatan pengiriman data sebesar 32 bytes menggunakan komunikasi Fiber Optic adalah sebesar 1 ms atau sama dengan 32 bytes/ms.


DETEKSI KERUSAKAN BEARING PADA MOTOR INDUKSI DENGAN BEBAN BERBASIS INTERNET OF THINGS

Author : Isla Madinah Hakim  , Endah Suryawati Ningrum, Zaqiatud Darojah, Eny Kusumawati

Abstrak

Motor induksi merupakan mesin yang memiliki peran penting dalam dunia industri maupun rumah tangga. Pada motor induksi, khususnya motor induksi satu fasa, bearing memiliki peran fungsi untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami adanya gesekan yang berlebihan terhadap mesin. Oleh karena itu, bearing harus cukup kuat untuk memungkinkan mesin dapat bekerja dengan sangat baik. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sebuah sistem pendeteksi kerusakan bearing pada motor induksi satu fasa dengan sensor suhu, sensor arus dan sensor getaran. Sistem ini terdiri dari pembacaan sensor (suhu, arus dan getaran), proses feature extraction menggunakan metode Empirical Mode Decomposition (EMD), proses pattern recognition menggunakan Backpropagation Neural Network (BNN), dan proses penampilan informasi kondisi bearing dengan sistem Internet of Things (IoT). Hasil proses ekstraksi ciri menggunakan metode EMD menunjukkan bahwa sistem mampu menguraikan sinyal getaran. Dan hasil proses pengenalan pola menggunakan metode BNN menunjukkan bahwa sistem mampu mengklasifikasikan sinyal dari 400 data latih dengan akurasi 100% untuk sinyal arus dan 98% untuk sinyal getaran. Keseluruhan sistem telah berhasil bekerja secara fungsional dengan menggunakan sistem Internet of Things (IoT) berbasis aplikasi web.


ANALISIS PENGARUH VARIASI SUDUT TRANSITION ZONE DAN SUDUT INLET DUCT TERHADAP KARAKTERISTIK ALIRAN DAN PERPINDAHAN PANAS PADA HRSG TIPE VERTIKAL

Author : Ikhsan Mahardhika Utama  , Fifi Hesty Sholihah, Rifah Amalia

Abstrak

Komponen yang menentukan bentuk aliran pada HRSG adalah inlet duct. Setelah melewati inlet duct, flue gas diharapkan memiliki kecepatan aksial dan distribusi temperatur yang uniform, dengan tujuan untuk mengoptimalkan pressure drop dan mengurangi turbulensi gas sisa karena memiliki kecepatan tinggi. Turbulensi dapat menyebabkan tidak meratanya temperatur aliran karena ada panas terkonsentrasi pada titik tertentu sehingga dapat mengurangi perpindahan panas yang terjadi antara flue gas dan uap. Namun pada kondisi aktual, aliran yang keluar dari inlet duct belum mencapai aliran uniform karena terjadi separasi pada bagian tepi dari inlet duct. Sehingga, diperlukan suatu upaya agar aliran yang keluar dari inlet duct memiliki profil aliran dan distribusi temperatur yang uniform. Pada Tugas Akhir ini, peneliti akan melakukan studi numerik berupa simulasi 2 dimensi menggunakan Computational fluid dynamic (CFD) mengenai pengaruh variasi sudut pada inlet duct dan transition zone HRSG tipe vertikal terhadap karakteristik aliran dan perpindahan panas. Variasi sudut inlet duct (β) dan transition zone (α) dalam penelitian ini ada 5 macam yaitu, variasi 1 dengan sudut α=35° dan β=15°, variasi 2 dengan sudut α=35° dan β=25°, variasi 3 dengan sudut α=35 dan β=30°, variasi 4 α=30° dan β=25°, variasi 5 α=45° dan β=25° . Dari hasil simulasi dapat diketahui bahwa sudut inlet duct dan zona transisi mempengaruhi aliran dan perpindahan panas flue gas pada HRSG tipe vertikal, semakin besar sudut α menyebkan terjadinya separasi aliran, semakin besar sudut β menyebabkan kecepatan aliran flue gas menjadi lebih cepat. Pada simulasi ini variasi 2 (α=35°, β=25°) memiliki kecepatan dan distribusi aliran yang paling baik dengan kecepatan flue gas rata-rata sebesar 4,27 m/s, selain itu total perpindahan panas yang tertinggi juga terjadi pada variasi 2 (α=35°, β=25°) dengan total perpindahan panas sebesar 190,2057 MW.


SIMULASI MODUL IOT PADA APLIKASI RUMAH PINTAR DENGAN ARDUINO

Author : Andre Septian Prayogo  , M. Udin Harun Al Rasyid, Arif Basofi

Abstrak

Penggunaan IoT untuk keamanan rumah masih sangat kurang, apalagi di era 4.0 ini. Banyak rumah yang belum memiliki sistem keamanan yang memadai untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Dengan mengintergrasikan Modul yang ada di IoT Trainer KIT dengan cloud yang akan di monitor di website akan membantu untuk memonitor kondisi dari rumah. Pada proyek akhir ini bertujuan untuk menciptakan suatu sistem aplikasi yang dapat memonitoring kondisi rumah yang terdiri atas suhu, kelemban, deteksi Jarak untuk maling, deteksi Kadar gas menggunakan mikrokontroler NodeMCU. Nantinya data hasil dari NodeMCU akan di tampilkan secara real-time dan akan menampilkan Riwayat data di website.


RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI SUHU DAN KELEMBABAN PADA PERKANDANGAN SEMI CLOSED HOUSE BURUNG PUYUH DENGAN METODE LOGIKA FUZZY

Author : Febri Bagaskara Suprianto  , Ardik Wijayanto, Hendhi Hermawan

Abstrak

Pengaturan suhu dan kelembaban pada burung puyuh sangatlah penting dalam tata cara pembudidayaan burung puyuh. Suhu dan kelembaban yang ideal bagi burung puyuh akan meningkatkan produktifitas hasil peternakan puyuh. Namun saat ini masih banyak para peternak burung puyuh dalam mengatur suhu dan kelembaban kandang masih dengan cara mamatikan dan menyalakan penghangat secara manual dan juga para peternak burung puyuh hanya memfokuskan aspek gizi pakan saja dalam pembudidayaannya. Sedangkan banyak aspek yang mempengaruhi tingkat kualitas hasil peternakan puyuh selain konsumsi pakan, seperti halnya jumlah pemberian konsumsi air yang tepat dan kondisi kandang seperti suhu dan kelembaban dalam kandang. Oleh karena itu dibuatlah inovasi sistem kendali untuk menangani beberapa faktor pendukung dari manajemen pemeliharaan dari burung puyuh petelur yang kebanyakan masih belum ditangani oleh para peternak burung puyuh. Dalam sistem kendali ini digunakan 3 parameter untuk sistemnya yaitu suhu, kelembaban, dan jumlah konsumsi air yang tepat. Cara kerjanya dilakukan pengendalian suhu dan kelembaban kandang yang dibaca oleh sensor SHT11 yang nanti hasil pembacaannya diproses oleh mikrokontroler yang sudah diberi set point mengenai suhu dan kelembaban yang sesuai dengan umur dari burung puyuh yang dikendalikan menggunakan logika fuzzy. Sedangkan untuk pemberian air untuk minum menggunakan IC Real Time Clock yang dipasang pada mikrokontroler sebagai penjadwalan pada mikrokontroler tentang jumlah air yang dikonsumsi sesuai dengan umur burung puyuh. Fuzzy logic yang diterapkan dalam pengaturan suhu dan kelembaban menghasilkan nilai rata-rata error untuk control fuzzy suhu sebesar 0.15% dengan nilai akurasi control fuzzy suhu sebesar 99.85%. Sedangkan untuk control fuzzy kelembaban didapatkan nilai rata-rata error sebesar 0.74% dengan nilai akurasi control fuzzy kelembaban 99.26%.