SISTEM KONTROL SUHU DAN KELEMBABAN PADA PMCB MENGGUNAKAN HEATER DAN EXHAUST FAN DENGAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK
Author : Mirza Ghulam Ahmad  , Moh. Zaenal Efendi, Rachma Prilian Eviningsih

Abstrak

Pole Mounted Metering Circuit Breaker adalah suatu alat sistem pengaman yang terdapat gardu portal pada bagian tegangan menengah sebesar 20 kV yang memiliki fungsi sebagai pemutus, penghubung dan pengaman pada jaringan distribusi tegangan menengah 20 kV. Salah satu permasalahan yang ditemui adalah suhu pada PMCB terlalu tinggi maka dapat merusak isolator dan apabila heater pada PMCB mati akan membuat kelembaban pada PMCB naik dan mengakibatkan komponen-komponen yang ada di dalam PMCB menjadi lembab dan mudah berkarat. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem kontrol yang mampu menjaga suhu dan kelembaban PMCB agar selalu berada pada angka nominal sesuai standar. Berdasarkan dari SPLN D3.021.1.2020, diketahui kondisi pelayanan normal suhu udara sekitar tidak melebihi 40 derajat celcius dan suhu rata-ratanya sepanjang 24 jam tidak melebihi 35 derajat celcius dan kelembaban relatif tertinggi 100 RH. Sistem ini menggunakan AC voltage controller digunakan untuk mengontrol tegangan input heater dan exhaust fan. Metode kontrol yang digunakan adalah artificial neural network. Metode kontrol artificial neural network bekerja dengan input suhu dan kelembaban dan output menghasilkan nilai sudut penyalaan sebagai kontrol TRIAC pada AC voltage controller. Berdasarkan hasil pengujian hardware sistem close loop dapat diketahui bahwa, sistem mampu mengontrol suhu dan kelembaban pada set point suhu 35 derajat celcius dan kelembaban 50 RH pada waktu tertentu dengan error suhu 2,86 persen pada malam hari dan 0,57 persen pada sore hari serta error kelembaban 2,2 persen pada malam hari dan 11,8 persen pada sore hari dibandingkan dengan nilai set point.


RANCANG BANGUN INVERTER 3 FASA MENGGUNAKAN METODE DISCONTINUOUS PULSE WIDTH MODULATION (DPWM)

Author : Wahyu Prayudha Dharma  , Bambang Sumantri, Novie Ayub Windarko, Hendhi Hermawan

Abstrak

Inverter merupakan suatu rangkaian elektronika yang berfungsi untuk mengubah tegangan searah (DC) menjadi tegangan bolak-balik (AC). Dalam penggunaan Inverter akan timbul Total Harmonic Distortion (THD) ketika Inverter dipasang peralatan listrik AC (beban non-linier) dikarenakan gelombang keluarannya tidak sebanding dengan tegangan dalam setiap setengah siklus sehingga bentuk gelombang arus maupun tegangan keluarannya tidak sama dengan gelombang masukannya (mengalami distorsi). Dengan semakin banyaknya beban non-linier yang terpasang akan meningkatkan prosentase nilai Total Harmonic Distortion (THD) yang dapat mengakibatkan rusaknya peralatan yang terpasang. Sehingga untuk mengurangi prosentase nilai Total Harmonic Distortion (THD) dapat dilakukan dengan menambahkan filter pasif, jumlah fase maupun menggunakan Pulse-Width Modulation (PWM).Pulse-Width Modulation (PWM) adalah salah satu teknik modulasi dengan mengubah lebar pulsa (duty cylce) dengan nilai amplitudo dan frekuensi yang tetap. Ada beberapa jenis PWM yang dapat digunakan untuk memperbaiki prosentase nilai Total Harmonic Distortion (THD) salah satunya Discontinuous Pulse-Width Modulation (DPWM). Discontinuous Pulse-Width Modulation (DPWM) memiliki kelebihan dibandingkan Continuous Pulse-Width Modulation (CPWM) diantaranya meningkatkan kualitas gelombang, mengurangi kerugian pada switching dan mengurangi ukuran komponen pasif. Penggunaan metode Discontinuous Pulse-Width Modulation (DPWM) memiliki nilai Total Harmonic Distortion (THD) sebesar 0,426. Nilai Total Harmonic Distrotion (THD) tersebut lebih kecil dibandingkan dengan metode Sinusoidal Pulse Width Modulation (SPWM) yaitu 0,443. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara kuantitas metode Discontinuous Pulse-Width Modulation (DPWM) lebih baik dibandingkan metode Sinusoidal Pulse Width Modulation (SPWM) dikarenakan nilai THD Discontinuous Pulse-Width Modulation (DPWM) lebih kecil dibandingkan Sinusoidal Pulse Width Modulation (SPWM). Permasalahan yang timbul dari metode Discontinuous Pulse Width Modulation (DPWM) yaitu bergetarnya motor ketika diberi tegangan.


SISTEM REKOMENDASI PENCIPTAAN KONDISI IDEAL TANAM BERDASARKAN SENSOR PH DAN MOISTURE

Author : Julid Gema  , Isbat Uzzin Nadhori, M. Udin Harun Al Rasyid

Abstrak

Supaya tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup maka kualitas tanah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Tidak ada metode yang akurat dalam menentukan kualitas tanah selain dengan menggunakan lab testing. Dengan menggunakan teknologi internet of things, penelitian ini bertujuan untuk membangun sebuah sistem untuk membaca atribut dari tanah dan memberikan informasi mengenai kecocokan tanah terhadap tanaman dan juga prediksi nilai NPK yang terkandung didalamnya. Sistem terdiri dari dua bagian, aplikasi mobile dan sensor. Sistem dibuat menggunakan Flutter sebagai framework aplikasi mobile dan Arduino sebagai mikrokontroler pengendali alat. Dengan dibuatnya sistem ini, diharapkan dapat membantu proses pengidentifikasian kondisi dan kualitas sebuah lahan sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam proses penanaman. Berdasarkan uji coba yang dilakukan, sistem dapat berjalan dengan baik. Data dari sensor dapat diambil dan ditampilkan oleh aplikasi mobile. Aplikasi dapat menampilkan tingkat kecocokan tanah terhadap tanaman hortikultura. Bagian yang harus diperbaiki dari sistem adalah prediksi nilai NPK yang mana masih memiliki tingkat error yang tinggi.


MONITORING KOORDINAT POSISI GPS MENGGUNAKAN GOOGLE MAP SECARA REALTIME

Author : Evin Ambarwati  , Haryadi Amran Darwito, Hendy Briantoro

Abstrak

Sekarang ini sistem pencarian sudah banyak bermunculan, dan sistem pencariannya hanya memberikan informasi lokasi posisi terakhir. Selain itu media untuk menampilkan lokasi user memrlukan waktu yang panjang dan hanya pada lingkup tertentu. Keadaan ini kurang efektif khususnya bagi tunanetra sehingga dibutuhkan sebuah system yang mampu mengatasi hal tersebut. Sistem yang dirancang dalam proyek akhir ini memanfaatkan teknologi GPS (Global Positioning System), google map dan MySQL. Untuk mengakses google map pada web browser harus melakukan pendaftaran API Key. Data GPS akan diterima pada database MySQL ditampilkan ke dalam google map berupa garis dan animasi symbol arrow. Setiap 1 detik sekali GPS akan mengirimkan latitude dan longitude ke dalam database dan ditampilkan di google map. Selain itu, system ini menggunakan persamaan delay untuk mengukur delay pengiriman dan penerimaan koordinat. Dengan menggunakan system monitoring ini, dapat dilakukan pemantauan lokasi pengguna secara realtime. Kinerja system monitoring ini sangat ditentukan oleh kecepatan dari penerimaan data. Penerimaan data koordinat ke database yang digunakan untuk menampilkan data monitoring lokasi pengguna memiliki delay sebesar 0,2 detik. Namun delay akan berubah sesuai dengan waktu penerimaan data koordinat, karena jaringan internet sangat mempengaruhi delay yang didapatkan.


ANALISA TEKNIK REDUKSI PAPR SLM MENGGUNAKAN PROLATE-BINARY SEQUENCES PADA SISTEM MIMO-OFDM BERBASIS PERANGKAT LUNAK

Author : Syafira Az-Zahra  , Yoedy Moegiharto, Hendy Briantoro

Abstrak

OFDM merupakan teknik transmisi multicarrier yang sering digunakan pada komunikasi nirkabel. Namun, teknik ini menghasilkan nilai Peak to Average Power Ratio yang tinggi. PAPR yang tinggi dapat merusak sinyal dan mengurangi efisiensi dari power amplifier. Oleh karena itu nilai PAPR yang tinggi harus direduksi. Teknik reduksi PAPR yang digunakan yaitu SLM, namun pada teknik tersebut terdapat pengiriman SI (Side Information) yang dapat mengurangi throughput data dan efisiensi spektral. Untuk menghindari pengaruh pengiriman SI pada sistem SLM OFDM, digunakan deretan-deretan rotasi phase deterministik seperti Prolate-binary sequences agar dapat diestimasi di penerima. Untuk itu dalam proyek akhir ini, dilakukan simulasi reduksi PAPR menggunakan teknik Selected Mapping (SLM) menggunakan Prolate-binary sequences pada sistem MIMO-OFDM. Hasil akhir dari proyek akhir ini adalah pada penggunaan nilai parameter prolate (w) 0,25 dengan subcarrier 512 diperoleh nilai PAPR sebesar 8,32 dB dan probabilitas CCDF 10-3 sedangkan untuk w 0,1 diperoleh nilai PAPR sebesar 8,35 dB, sehingga w yang lebih baik digunakan adalah 0,25. Pada penggunaan Prolate-binary sequences dengan subcarrier 512, modulasi QPSK diperoleh nilai PAPR sebesar 8,3 dB dan probabilitas CCDF 10-3 sedangkan ketika menggunakan Riemann-binary sequences diperoleh nilai PAPR 8,4 dB, sehingga penggunaan Prolate-binary sequences pada sistem SLM-MIMO OFDM lebih baik dibandingkan dengan penggunaan Riemann-binary sequences.