Author : Burhanudin Abu Sujak , Citra Devi Murdaningtyas, Sritrusta Sukaridhoto
Abstrak
Televisi merupakan media massa yang dapat digunakan dalam berbagai hal mencakup penyiaran berita, hiburan, dan berbagai fungsi lainnya. Perkembangan televisi dari waktu ke waktu mengalami penyempurnaan dalam hal teknologi yang digunakan. Dari awalnya menggunakan sistem analog hingga saat ini di Indonesia akan beralih menggunakan sistem digital. Peralihan ini tidak lain dikarenakan untuk mengimbangi teknologi yang ada saat ini. Selain itu dengan digitalisasi televisi yang ada di Indonesia bermanfaat dalam hal efisiensi frekuensi itu sendiri dan peningkatan kualitas video yang disiarkan. Disamping itu terdapat teknologi lain yang memiliki kualitas video lebih bagus dibanding TV Analog, yaitu Internet Protokol Televisi (IPTV). IPTV memanfaatkan protokol internet sebagai media penyaluran kontennya. IPTV dan TV Digital DVB-T memiliki kualitas gambar lebih baik dibanding dengan TV Analog. Namun teknologi IPTV lebih dulu digunakan dan memiliki protokol yang berbeda dengan TV Digital DVB-T. Oleh karena itu dalam Proyek Akhir ini dilakukan pengukuran kualitas gambar yang diterima oleh masyarakat pada siaran TV Digital DVB-T dan IPTV. Proyek akhir ini dilakukan dengan metode komparatif dengan pendekatan kuantitatif. Sedangkan pengambilan data dilakukan melalui observasi. Dari data tersebut didapatkan perbandingan nilai yang dapat disimpulkan bahwa kualitas video yang didistribusikan melalui TV Digital DVB-T2 lebih unggul dibandingkan dengan IPTV.
PENGGUNAAN SOLAR CELL SECARA LANGSUNG PADA KOMPOR LISTRIK UNTUK SISTEM RUMAH MANDIRI
Author : Desy Nanda Kurniasari , Indhana Sudiharto, Epyk Sunarno
Abstrak
Berbagai sistem penunjang kehidupan yang serba modern ini, hampir semua kalangan membutuhkan energy listrik. Dalam pengunaan jumlah banyak dan secara terus menerus akan mengalami krisis energi atau habisnya pasokan BBM (Bahan Bakar Minyak). Dimana bahan bakar fosil tidak dapat diperbarui dan akan mudah habis.Sehingga diperlukan energi alternatife yaitu solar cell yang merupakan energi terbarukan. Berbagai sistem penunjang kehidupan yang serba modern ini, hampir semua kalangan membutuhkan energi listrik. Pada kondisi yang sudah dijelaskan diatas maka diperlukannya energi alternatif yang dijadikan subtitusi terhadap salah satu solusi atau beberapa sistem penunjang kehidupan. Dan solusinya yaitu menggunakan kompor listrik dengan energy alternative yaitu energy matahari atau solar cell. Proyek akhir ini menggunakan 8 buah solar cell yang masing -masing sebesar 135 WP 40-60 Vdc untuk mensuplai energy listrik pada kompor listrik sebesar 220 Vdc dengan daya 200-600 W. Pada energi listrik yang dihasilkan dari solar cell sebesar 1080 WP. Dari panel surya tegangan dinaikkan menggunakan boost converter, kontrol yang digunakan yaitu PI untuk menjaga keluaran tegangan dc. Keluaran tegangan tersebut digunakan untuk mensuplai kompor listrik. Dari tugas akhir ini di peroleh bawha kompor listrik mampu mengeluarkan daya sebesar 300W,400W dan 500W dengan rata rata effisiensi sebesar 93.93%. Dan mampu merebus air hingga mendidih selama 4 menit 43 detik (4:43) dengan daya 500W.
ANALISA SISTEM PENGENDALIAN LEVEL AIR PADA PROSES DEMINERALISASI DI WATER TREATMENT PLANT MENGGUNAKAN METODE INTERNAL MODEL CONTROL (IMC)
Author : Yusyirfan Ihza Nurfikri , Hendrik Elvian Gayuh Prasetya, Fifi Hesty Sholihah
Abstrak
Water Treatment Plant (WTP) adalah unit yang berfungsi untuk mengolah air dari laut yang akan masuk ke boiler untuk dipanaskan. Didalam Water Treatment Plant terdapat Demin Water Tank yang digunakan untuk menyimpan air hasil dari treatment yang dilakukan sebelum masuk ke Condenser untuk menyuplai air di Boiler. Pengendalian level pada Demin Water Tank perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan air yang masuk kedalam condenser, agar level air tidak terlalu rendah yang mengakibatkan turunnya tingkat kevakuman condenser dan menyebabkan unit menjadi trip. System pengendalian dengan metode Internal Model Control (IMC) bertujuan agar respon pengendali memiliki performansi yang lebih baik daripada penendalian yang lain. Dari hasil simulasi didapatkan bahwa pengendali IMC memiliki respon yang baik pada saat uji set point karena mampu mencapai setpoint yang diinginkan. Parameter pengendalian IMC yang didapatkan yaitu, Settling time = 54000 detik dan Error steady state = 0%.
DESAIN SISTEM KOMUNIKASI V2I UNTUK PERINGATAN AREA TERHALANG MENGGUNAKAN DETEKSI ULTRASONIK
Author : Andy Nugroho , Hani'ah Mahmudah, Okkie Puspitorini
Abstrak
Salah satu faktor penyebab tingginya angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya adalah ketidaktahuan pengemudi terhadap kondisi jalan yang tidak terlihat (BlindZone), sehingga dibutuhkan sistem kendaraan modern [1]. Jaringan ad hoc kendaraan (VANET) memungkinkan kendaraan berkomunikasi satu sama lainserta dengan unit pinggir jalan (RSU). belum banyak penelitian yang telah dilakukan untuk vehicle to infrastructure (V2I) menggunakan alat pendeteksi jarak dari kendaraan. Penelitian ini mengevaluasi beberapa parameter penting saluran nirkabel V2I . Hasil menunjukkan dampak yang sangat tinggi yaitu jarak, frekuensi link,lokasi RSU dan hambatan pada LoS (Line of Sight) ada pada penyebaran saluran V2I. Hal ini merupakan titik awal dalam penyebaran perencanaan radio di lingkungan V2I [2]. Menindaklanjuti semakin tingginya angka kecelakan yang terjadi pada area terhalang, perlu dilakukan perancangan desain sistem peringatan area terhalang antar kendaraan. Untuk sistemnya, secara garis besar terdiri dari kendaraan Deteksi dan kendaraan target dengan mekanismenya, kendaraan Deteksi memantau koordinat lokasisecara terus-menerus dari kendaraan target, kemudian nilai Koordinat tersebut akan dikirim oleh Raspberry Pi 3 Model. Modus operasi rinci dari algoritma ini telah dipublikasikan sebelumnya, dan divalidasi dalam sistem transportasi [2]. Dengan tujuan untuk menentukan apakah termasuk area terhalang atau tidak. Proses selanjutnya menampilkan sebuah peringatan berupa pesan tampilan dan suara melalui layar LCD dan buzzer. Pada perancangan sistem ini, masing-masing kendaraan akan digunakan Raspberry Pi 3 Model B sebagai sensor Wi-fi jarak dekat yang akan mengirim sinyal dan deteksi pada RSU1 (infrastructure) [5]. Harapan kedepan dari penelitian ini adalah dapat di ciptakan dan implementasikan sistem komunikasi untuk mengurangi resiko bahaya pada persimpangan jalan.
DESAIN INVESTIGASI ANTENA MIKROSTRIP FREKUENSI WIDEBAND DENGAN POLARISAI CIRCULAR UNTUK PESAWAT
Author : Rohmania Rizqi Alfian Putri , Budi Aswoyo
Abstrak
Antena dirancang untuk kebutuhan tertentu, antena pada pesawat terbang digunakan untuk pemancaran atau penerimaan sinyal komunikasi penerbangan. Rancangan antena pada pesawat terbang tidak hanya tergantung pada sistem komunikasi yang dilayani tetapi juga tergantung pada sifat dinamika udara (aerodynamic). Antena berfungsi sebagai pemancar atau penerima gelombang elektromagnetik dalam sistem komunikasi. Dalam penjalarannya dari suatu pemancar menuju penerima yang jauh jaraknya menyebabkan gelombang elektromagnetik mengalami pengurangan energi, sehingga ketika diterima oleh penerima, kekuatan sinyal sudah berkurang. Untuk dapat diterima dengan baik oleh penerima maka diperlukan suatu antena yang mempunyai faktor pola radiasi, polarisasi, penguatan gain tinggi dan direktivitas yang lebar. Banyak cara yang dilakukan untuk membuat sebuah antena salah satunya adalah antena mikrostrip dengan bentuk patch segiempat. Selain bentuk yang berbeda, antena juga memiliki polarisasi yang berdeda-beda. Gelombang elektromagnetik dapat mengalami pemantulan (refleksi), pembiasan (refraksi), dan pelenturan (difraksi) yang dapat mengubah polarisasi pancaran suatu antena. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis antenna yang dapat digunakan untuk menerima beberapa sinyal komunikasi dengan berbeda frekuensi pada pesawat sehingga jumlah dan bentuk antena tidak mempengaruhi sifat dinamika udara dari pesawat itu sendiri. Dari hasil simulasi antenna bekerja pada frekuensi 712.87 MHz – 1241 MHz yang merupakan wideband frekuensi, VSWR = 1,9216, Gain maksimal 1.8789 pada frekuensi 1000.5 MHz, axial ratio 10.06 – 13.67 yang berarti memiliki polarisasi ellips, dan memiliki pola radiasi dipole.
Kategori
D3 Teknik ElektronikaD3 Teknik Telekomunikasi
D3 Teknik Elektro Industri
D3 Teknik Informatika
D3 Teknologi Multimedia Broadcasting
D4 Teknik Elektronika
D4 Teknik Telekomunikasi
D4 Teknik Elektro Industri
D4 Teknik Informatika
D4 Teknik Mekatronika
D4 Teknik Komputer
D4 Teknik Teknologi Game
S2 Teknik Elektro
S2 Teknik Informatika dan Komputer