Author : Wisnu Charisma Jati , Taufiqurrahman, Ardik Wijayanto
Abstrak
Dalam perkembangannya, monitoring suatu ruangan di dunia telah berkembang pesat sebagai media untuk mempermudah pengamatan suatu ruangan. Pada proyek akhir ini dibuat sebuah sistem monitoring laboratorium yang mampu mengenali penggunaan AC, penggunaan lampu, serta perkiraan jumlah orang dalam laboratorium. Dalam perancangan dan implementasinya untuk penggunaan AC, penggunaan lampu, serta perkiraan jumlah orang dalam laboratorium menggunakan SHT11, LDR, DFR0034, dan Kamera OV7670. Pada pembuatan alat untuk mendeteksi perkiraan jumlah orang dalam laboratorium dapat memberikan perkiraan jumlah orang didapatkan tingkat kesuksesan sebesar 67.3% dengan Threshold pada proses segmentasi warna rambut adalah sebesar Merah =32, Hijau=20, Biru=32 dan menggunakan scanning serta scalling matriks 24x23, matriks 20x19, matriks 16x15, matriks 12x11 dengan waktu proses sebesar 12.1 s. Pada pembuatan alat untuk mendeteksi keadaan laboratorium yaitu pemakaian AC dilakukan dengan mendeteksi adanya nilai suhu sebesar kurang dari 25.30C dan adanya kecenderungan data suhu turun, pemakain lampu dengan nilai ADC data kurang dari 85 , dan pendeteksian adnya suara dalam laboratorium dengan menggunakan threshold peak level detector sebesar 6 nilai ADC.
RANCANG BANGUN PROTOTIPE PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO
Author : Bonggar Tabuni , Dedid Cahya Happyanto, Ardik Wijayanto
Abstrak
Energi listrik memiliki peranan yang sangat penting dalam usaha meningkatkan mutu kehidupan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Keterbatasan penyediaan energi listrik merupakan salah satu hambatan dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat khususnya di daerah pedesaan. Umumnya daerah pedesaan terpencil yang terletak pada daerah pegunungan mempunyai potensi energi air yang besar. Penggunaan PLTMH sebagai energi alternatif yang cost friendly, user friendly, environmen friendly, dan material friendly diharapkan dapat lebih besar lagi pemanfaatannya menjadi solusi atas kurangnya aksesibilitas masyarakat pedesaan terhadap PLTMH dapat dikembangkan untuk sumber energi listrik terbarukan dari sumber air di samping teknis untuk penerangan rumah tangga atau industri rumah tangga/pengolahan produksi. Terkadang, tegangan output dari generator cenderung tidak stabil. Oleh karena itu dibutuhkan Automatic Voltage Regulator yang berfungsi untuk menjaga agar tegangan generator tetap konstan dengan kata lain generator akan tetap mengeluarkan tegangan yang selalu stabil tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah, dikarenakan beban sangat mempengaruhi tegangan output generator. Untuk pengaturan Automatic Voltage Regulator menggunakan kontroler Proportional-Integrator (PI) agar output tegangan menjadi stabil.
IMPLEMENTASI MODEL VIEW PRESENTER PADA APLIKASI MONITORING PSIKOLOGI ATLET “GANTARAâ€
Author : Moh Fajar , Umi Sa'adah, Desy Intan Permatasari
Abstrak
Model View Presenter (MVP) pattern merupakan architectural design pattern. MVP bertujuan untuk memisahkan antara business logic dengan view atau user interface (UI). Sehingga memudahkan dalam maintain kode program, memudahkan penyelesaian masalah (debugging), dan juga menghindari code smell. Gantara merupakan sebuah aplikasi yang digunakan untuk memonitoring psikologi atlet. Pada aplikasi ini, hampir semua feature melakukan pengambilan data pada database. Sehingga tidak dipungkiri terjadi interaksi antara model dan view pada aplikasi ini. Dengan banyaknya interaksi antara model dan view pada aplikasi Gantara, maka MVP pattern menjadikan program lebih terstruktur. Pada penelitian ini dengan adanya implementasi architectural design pattern pada Gantara, dapat menambah performa dan maintainability dari aplikasi Gantara.
ALAT PENCAMPUR WARNA CAT MENGGUNAKAN ARM CONTROLLER BERBASIS KAMERA
Author : Achmad Toriq Afandi , Setiawardhana, Sigit Wasista
Abstrak
Pencampuran warna cat secara manual apabila dikembangkan menjadi suatu alat pencampuran warna yang sesungguhnya merupakan suatu peralatan yang sangat dibutuhkan oleh pengusaha yang berada dibidang proses pencampuran warna, contohnya pengusaha cat. Alat pencampur cat ini berfungsi sebagai alat yang mencampurkan beberapa warna pokok subtraktif menjadi warna baru dengan berbagai macam warna. Alat pencampur yang sudah ada rata-rata masih menggunakan proses pencampuran secara manual. Pada dasarnya prinsip kerja dari alat pencampur warna cat yaitu terdapat empat warna pokok pada tabung yaitu cyan, magenta, yellow, dan key (black), serta disediakan warna putih sebagai warna dasar dari proses pencampuran warna. Terdapat kamera input dan output yang membaca nilai warna red, green, dan blue dan di konversikan ke nilai cyan, magenta, yellow, dan key(black). Nilai cyan, magenta, yellow, dan key (black) merupakan nilai set point atau nilai input untuk mengontrol putaran motor yang digunakan untuk mengatur tekanan pada tabung warna sehingga didapatkan volume dari warna yang keluar. Dari warna yang keluar akan dicampur dan dibaca nilai warnanya menggunakan kamera output sebagai nilai output yang sudah di konversikan ke dalam nilai cyan, magenta, yellow, dan key(black) untuk dibandingkan dengan nilai set point dengan menggunakan metode Euclidean distance sehingga didapatkan nilai error yang digunakan untuk mengatur volume warna yang keluar. Dari hasil nilai error warna akan didapatkan dan diharapkan mendapatkan hasil warna yang sama dengan warna input. Hasil pengujian yang dilakukan yaitu jarak error warna antara input dan output <50 pada masing-masing pigmen warna. Error warna secara keseluruhan warna output tidak berbeda jauh dengan warna referensi atau warna input. Perbedaan hasil pembacan warna terpengaruh oleh tingkat intensitas cahaya.
RANCANG BANGUN ALAT PENGERING GABAH DENGAN MENGGUNAKAN KONTROL PI
Author : Johan Arif Kharismanto , Sutedjo, Suryono
Abstrak
Pengeringan gabah merupakan salah satu tahap kegiatan dalam penanganan pasca panen padi yang sangat menentukan rendemen dan mutu beras konsumsi. Keterlambatan dan tidak sempurnanya proses pengeringan hasil panen akan membuat rendahnya mutu beras giling. Pada tugas akhir sebelumnya sudah dibuat alat pengering gabah namun alat itu belum terdapat uji laboratorium kandungan gizi sesudah dikeringkan dengan waktu pengeringan 150 menit. Range kadar air terlalu kecil 19-14%, hal itu kurang tepat digunakaan pada padi yang cukup basah sekitar 25% kadar air pada waktu panen. Untuk set point yang digunakan 43˚C dengan kontrol PID membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai set point. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka pada proyek akhir ini dibuat suatu alat yang dapat mengeringkan gabah tanpa menghilangkan kandungan gizi. Pada tugas akhir sebelumnya kurang bisa untuk di implementasikan dikarenakan range kadar air yang tidak mencakup kadar padi secara umum di indonesia sekitar 25 %. Selain itu pada proses akhir tidak dilakukan uji laboratorium tentang kandungan gizi setelah dikeringkan, sehingga pada tugas akhir sebelumnya tujuanya belum bisa terpenuhi karena tidak terketahui kandungan gizi. Alat pengering ini mempunyai laju pengeringan sebesar 5,9 %, sedangkan untuk tugas akhir sebelumnya mempunyai laju pengeringan sebesar 2,24 %, karena pada tugas akhir ini setting point yang digunakan lebih tinggi 17˚C dari sebelumnya dan sama-sama digunakan heater udara untuk pemanas ruangan. Proses pengeringan dilakukan selama 125 menit lebih cepat 25 menit dari tugas akhir sebelumnya, dari kadar air basah 25% menjadi gabah siap giling 13 – 14 %. Dalam hasil pengeringan yang telah dilakukan di laboratorium kandungan protein sebesar 5,64 % dengan standart 0% sampai 7% untuk protein normal, dan kandungan karbohidrat sebesar 74,3 % dengan standart 50% sampai 80% untuk karbohidrat normal (nilai per 250 gram).
Kategori
D3 Teknik ElektronikaD3 Teknik Telekomunikasi
D3 Teknik Elektro Industri
D3 Teknik Informatika
D3 Teknologi Multimedia Broadcasting
D4 Teknik Elektronika
D4 Teknik Telekomunikasi
D4 Teknik Elektro Industri
D4 Teknik Informatika
D4 Teknik Mekatronika
D4 Teknik Komputer
D4 Teknik Teknologi Game
S2 Teknik Elektro
S2 Teknik Informatika dan Komputer