ANALISIS PENGARUH KECEPATAN ROTASI TERHADAP KARAKTERISTIK PERPIDAHAN PANAS PADA ROTARY AIR HEATER
Author : Daffa Akmal  , Arrad Ghani Safitra, Hendrik Elvian Gayuh Prasetya

Abstrak

Pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) terdapat sebuah pembakaran didalam boiler. Dari hasil pembakaran boiler terdapat sisa-sisa gas buang yang akan di keluarkan ke atmosfer. Gas buang yang temperatur nya masih tinggi dan mengandung batu bara akan disalurkan pada pipa-pipa sebelum menuju ke cerobong asap. Temperatur dari gas buang dapat dimanfaatkan untuk pemanasan awal udara primer dan udara sekunder menggunakan alat berupa air preheater. Beroperasinya air preheater dapat meningkatkan efisiensi pada ruang bakar boiler. Pada rotay air preheater terdapat komponen berupa heating element yang berfungsi untuk mentransferkan panas dari gas sisa pembakaran ke udara pembakaran yang berputar dengan kecepatan rotasi tertentu. Pada penelitian ini akan dilakukan perubahan variasi kecepatan rotasi dengan menggunakan simulasi dengan metode Computational Fluid Dynamic untuk mengetahui Pengaruh Kecepatan rotasi terhadap karakteristik perpindahan panas. Dari hasil simulasi dan analisa secara kualitatif dan kuantitatif didapatkan nilai temperature outlet tertinggi berada di 26 rpm dengan nilai 634,6 K pada sisi udara. Kecepatan rotasi juga mempengaruhi nilai effisiensi pada kedua sisi aliran dimana pada sisi gas didapatkan nilai efisienis terbesar ada pada variasi 26 rpm dengan nilai 68,15 % pada sisi udara dan 77,83 % pada sisi flue gas. Selain efisiensi nilai efektivitas juga dipengaruhi oleh kecepatan rotasi dimana semkin besar kecepatan rotasi maka semakin besar pula nilai efektivitas, yakni pada kecepatan 26 rpm didapatkan nilai sebesar 72 %.


KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN ALGORITMA KNN (K-NEAREST NEIGHBOUR) DENGAN KOMPUTASI PARALEL MOSIX

Author : CHOIRUL UMMAH  , Idris Winarno, Akhmad Alimudin

Abstrak

Pada umumnya sebuah perangkat lunak dibangun dengan menggunakan paradigma komputasi serial, di mana perangkat lunak tersebut dirancang untuk dieksekusi oleh sebuah sebuah mesin yang mempunyai sebuah CPU. Klasifikasi K-Nearest Neighbour (KNN) membutuhkan komputasi tinggi dan waktu yang lama apabila dilakukan pada komputasi serial karena proses klasifikasi yang dilakukan perlu menghitung jarak data test dengan keseluruhan data training yang dimiliki sistem. Pada penelitian ini, kami mengajukan pendekatan baru untuk menyelesaikan permasalahan komputasi tinggi pada klasifikasi data KNN dengan menggunakan komputasi parallel Mosix. Aplikasi mosix mendistribusikan proses klasifikasi kepada beberapa node, sehingga proses program bermigrasi ke node di jaringan yang mampu menjalankan proses komputasi yang lebih cepat. Mosix bekerja pada saat proses perhitungan euclidian distance dan sorting jarak terpendek pada masing-masing node. Eksperimen ini dilakukan untuk data training sebanyak 4898431 baris dari KDDCUP'99 untuk 2 dan 4 node. Hasil eksperimen menunjukkan waktu eksekusi yang dibutuhkan sedikit dibandingkan dengan komputasi serial.


DESAIN DAN PENGEMBANGAN 3D INERSIA KONTROL BERBASIS AFC

Author : Kamarudin  , Endra Pitowarno, R.Sanggar Dewanto

Abstrak

Tesis ini mendesain metode kontrol 3D inersia berbasis PID-AFC (Propotional Integral Derivatif-Active Force control). Kubus setimbang digunakan dalam implementasi kontrol yang didesain. Tiga sisi dari kubus setimbang dipasang aktuator berupa motor DC yang dilengkapi reaction wheel. Kontrol PID digunakan untuk menstabilkan kubus pada tingkat posisi dan kecepatan sudut, sedangkan AFC digunakan untuk mengontrol percepatan sudut pada kubus setimbang. Simulasi telah berhasil membuktikan kinerja kontrol PID, PID-AFCP, PID-AFCPI, PID-AFCPD dan PID-AFCPID dengan menghitung Tracking Trajectory Error (TTE) terhadap sudut referensi. Kontrol PID-AFC memberikan kinerja lebih baik dibandingkan hanya PID. Sistem dikontrol menggunakan PID tanpa gangguan memiliki performa 147.27. Sistem dikontrol menggunkan kontrol PID ketika diberi gangguan sinus performa menurun menjadi 158.61. Kombinasi skema PID-AFC dapat memperbaiki peforma sistem, sistem dengan gangguan sinus performa meningkat menjadi 133.53. Eksperimen berikutnya sistem diberi gangguan Uniform random number (URN), performa sistem turun menjadi 1345.85. Kombinasi skema PID-AFC dapat memperbaiki peforma sistem, sistem dengan gangguan Uniform random number performa meningkat menjadi 137.28.


ANALISA LINGKUNGAN DAN PENEMPATAN ANTENA LOCALIZER TERHADAP PENENTUAN TITIK GROUND CHECK LOCALIZER DI BANDAR UDARA JUWATA TARAKAN

Author : Rheo Renggi Pradana  , Ari Wijayanti, Totok Warsito

Abstrak

Bandar udara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang lainnya. Salah satu fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan adalah adanya peralatan navigasi berupa alat bantu pendaratan atau biasa disebut Instrument Landing System(ILS). ILS sendiri terdiri dari tiga peralatan yaitu Localizer, Glide Path dan Marker Beacon. Penelitian ini di dilakukan di dalam komplek Bandara Juwata Tarakan pada salah satu peralatan ILS yaitu Localizer. Penelitian ini didasari oleh tidak adanya titik ground check sebagai acuan untuk menentukan kondisi peralatan dalam keadaan baik atau tidak sesuai peraturan baik itu di SKEP/83/VI/2005 maupun di buku panduan peralatan. Selain itu pengaruh penempatan peralatan yang tidak sesuai SKEP/113/VI/2002 dan pengaruh kondisi lingkungan di Bandara Juwata Tarakan juga akan mempengaruhi titik ground check yang akan dibuat. Penelitian ini akan dilakukan dengan perhitungan untuk mendapatkan titik ground check, pengukuran untuk menguji hasil perhitugan, analisa lingkungan dan penempatan antena terhadap hasil perhitungan dan pengukuran. Oleh karena itu, dengan diadakannya penelitian ini, dapat diperoleh titik titik yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan ground check yang dilaksanakan setiap bulan sehingga dapat diperoleh data ukur parameter pencaran setelah keluar dari antenna menggunakan alat yang biasa disebut ILS/VOR Analyzer. Dari nilai yang muncul pada alat tersebut dapat diketahui peralatan dalam kondisi baik atau tidak


ALAT PENCAMPUR WARNA CAT MENGGUNAKAN ARM CONTROLLER BERBASIS KAMERA

Author : Achmad Toriq Afandi  , Setiawardhana, Sigit Wasista

Abstrak

Pencampuran warna cat secara manual apabila dikembangkan menjadi suatu alat pencampuran warna yang sesungguhnya merupakan suatu peralatan yang sangat dibutuhkan oleh pengusaha yang berada dibidang proses pencampuran warna, contohnya pengusaha cat. Alat pencampur cat ini berfungsi sebagai alat yang mencampurkan beberapa warna pokok subtraktif menjadi warna baru dengan berbagai macam warna. Alat pencampur yang sudah ada rata-rata masih menggunakan proses pencampuran secara manual. Pada dasarnya prinsip kerja dari alat pencampur warna cat yaitu terdapat empat warna pokok pada tabung yaitu cyan, magenta, yellow, dan key (black), serta disediakan warna putih sebagai warna dasar dari proses pencampuran warna. Terdapat kamera input dan output yang membaca nilai warna red, green, dan blue dan di konversikan ke nilai cyan, magenta, yellow, dan key(black). Nilai cyan, magenta, yellow, dan key (black) merupakan nilai set point atau nilai input untuk mengontrol putaran motor yang digunakan untuk mengatur tekanan pada tabung warna sehingga didapatkan volume dari warna yang keluar. Dari warna yang keluar akan dicampur dan dibaca nilai warnanya menggunakan kamera output sebagai nilai output yang sudah di konversikan ke dalam nilai cyan, magenta, yellow, dan key(black) untuk dibandingkan dengan nilai set point dengan menggunakan metode Euclidean distance sehingga didapatkan nilai error yang digunakan untuk mengatur volume warna yang keluar. Dari hasil nilai error warna akan didapatkan dan diharapkan mendapatkan hasil warna yang sama dengan warna input. Hasil pengujian yang dilakukan yaitu jarak error warna antara input dan output <50 pada masing-masing pigmen warna. Error warna secara keseluruhan warna output tidak berbeda jauh dengan warna referensi atau warna input. Perbedaan hasil pembacan warna terpengaruh oleh tingkat intensitas cahaya.