Author : Saiful Islam   , Lohdy Diana, Arrad Ghani Safitra
ABSTRAK

Kebutuhan pendinginan meningkat seiring meningkatnya tuntutan kenyamanan termal di daerah beriklim panas. Penelitian ini mengkaji penggunaan serat organik sebagai media bantalan evaporasi untuk meningkatkan kinerja sistem pendinginan evaporasi pada bangunan, mendukung bangunan hijau dan mengurangi ketergantungan pada pendingin konvensional. Tiga jenis serat organik seperti serat kelapa (Cocos nucifera), serat aren (Arenga pinnata), dan serat eceng gondok (Eichhornia crassipes) diuji menggunakan terowongan angin pada skala laboratorium. Pengujian dilakukan pada tiga temperatur inlet, yaitu 28 °C, 30 °C, dan 35 °C, dengan kecepatan udara 3,1 m/s. Evaluasi performa dilakukan berdasarkan efektifitas saturasi, kapasitas pendinginan, laju evaporasi, COP, dan kecepatan udara keluaran. Hasil menunjukkan serat kelapa memiliki performa terbaik dengan efektifitas saturasi rata-rata 65,6%–75,8%, kapasitas pendinginan 1,0–1,7 kW, laju evaporasi 0,3–1,1 g/s, COP 1,8–3,1, dan kecepatan udara 1,33 m/s. Serat aren berada di posisi kedua dengan efektifitas 60,5%–70,1%, kapasitas pendinginan 0,9–1,6 kW, laju evaporasi 0,2–0,9g/s, COP 1,6–2,9, dan kecepatan udara 1,24 m/s. Serat eceng gondok menunjukkan performa terendah dengan efektifitas 49,7%–59,3%, kapasitas pendinginan 0,7–1,3 kW, laju evaporasi 0,1–0,8 g/s, COP 1,3–2,4, dan kecepatan udara 0,93 m/s. Selain itu serat kelapa juga menghasilkan perbedaan temperatur outlet tertinggi sebesar 8,2 °C, lebih baik dibanding serat aren dan eceng gondok yang masing-masing 7,6 °C dan 6,5 °C, menunjukkan baiknya kemampuan serat kelapa dalam mereduksi panas.

[DOWNLOAD ABSTRACT]